Re-find (Penemuan kembali)…..

Hahahaha….Setelah setahun lebih akhirnya kembali lagi ke blog ini dan itupun karena ketidaksengajaan bisa log ini ke blog ini. Maunya ke blog yang satu tapi karena gak tau user dan passwordnya akhirnya kucoba masukin emailku dan passwordnya dan eng…ing….eng masuk dah ke blog lama ini……hahaha

Sebelum blog ini sebenarnya lama nyangkut di Multiply yg akhirnya menghembuskan nafas terakhir beberapa bulan yang lalu dan cilokonya semua tulisan-tulisan hasil pemikiran yang bersih,suci tulus dan menyayat hati eh menyenangkan hati musnah dalam deru debu server si empunya Multiply

Yaah….mudah-mudahan semangat nge blog tumbuh lagi setelah re-find alias penemuan kembali blog ini

Dipublikasi di Uncategorized

Bentor…oh bentor…

Entah kenapa setiap kali saya melihat bentor terkadang muncul rasa jengkel ato marah…bukan karena ‘jenis kelamin’ bentor yg ga jelas tapi lebih karena kelakuan para tukang ato pengemudinya yang jauh lebih ga jelas dari ‘jenis kelamin’ bentor itu sendiri.

Kadang terlihat bentor yang terparkir sembarangan, bayangkan saja klo mereka berkumpul di ujung jalan atau gang seperti kelakuan sewaktu mereka masih jadi becak…pasti jalanan jadi ketutup lha itu bodinya bentor jauh lebih gendut dari becak.

Belum lagi kalo mereka ngetem di pinggir jalan..lagi-lagi kelakuan becak dipake buat markir seenaknya dan sekali lagi mereka lupa kalo bodi mereka itu jauuuh lebih gendut dari becak dan hasilnya tau sendirilah.

Pernah liat klub malam keliling? Sekarang yg hobi ngedugem di klub malam ga usah jauh-jauh buat ngedugem..cari aja bentor yg kalo malam lampunya semeriah kelurahan lagi tujuh belasan plus speaker segede gaban yang ditaro dibawah tempat duduk penumpang ngalahin TOA masjid lengkap dengan lagu dangdut ato house music!!!

Di kota ini bentor punya wilayah terbatas untuk beroperasi tapi semakin lama mereka bisa memperluas dan menjajah wilayah lain untuk dimasuki bahkan daerah bebas becak pun mereka masuki..mungkin karena pak polisi juga bingung mo nangkep ato tidak karena ‘jenis kelamin’ mereka yang ga jelas.

Di jalan raya kehebatan bentor pun luar biasa..tukang bentor yang notabene dahulunya kebanyakan mengemudikan becak seperti kehilangan kesadaran kalo lagi ngebut..tidak sadar bahwa yang mereka kemudikan adalah bentor bukan becak. Bayangkan kalo badan kita terserempet bentor pasti lebih parah dibanding keserempet becak ato motor bahkan saya sendiri pernah melihat seorang pengendara motor terjengkang ketika disambar oleh pengendara bentor ugal-ugalan.

Memang saya tidak bisa menilai bahwa semua bentor kelakuannya sama dan bahwa bentor lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya tapi selama sebagian besar pengendara bentor masih berpikir dengan cara tukang becak saya masih tetap jengkel kepada makhluk yang bernama bentor tersebut…ngomong-ngomong tu kalo bawa bentor harus pake SIM apa ya?

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Untuk anakku…

Untuk anakku,

Sebelum engkau menghirup nafas dunia ini, sebelum matamu terpukau cahaya mentari

Ketahuilah bahwa ayahmu ini hanyalah ayah yang sederhana

Sederhana dalam laku

Sederhana dalam tutur

Sederhana dalam hasrat

Maka jadilah engkau manusia sederhana

Berperisai Sabar

Berselimut Syukur

Ayahmu pun adalah ayah yang tak sempurna

Tak sempurna dalam amal

Tak sempurna dalam ibadah

Tak sempurna dalam iman

Tapi ayah tak ingin engkau seperti ayah

Sempurnalah pada hal yang akan-Nya

Seperti sempurna cinta-Nya pada kita

Meski tak pernah sempurna cinta berbalas

Tak terkira darah menetes dari ibumu, tak terperi keringat mengucur dari ayahmu

Beribu-ribu perih pun terlalui karenamu

Tapi bukan untuk kami menagih budi

Cukuplah engkau bahagiakan kami

Dengan doa dan khidmatmu pada seluruh yang mencintaimu

Dari atas langit hingga terdalam bumi

Duhai anakku,

Jika umur tak sampai untuk melihatmu

Maka cintaku untukmu

Dengan rindu membatu meluruh di akhir jaman

Kumohon doa di sisa waktumu

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Kisah sedih Sang Gatotkaca

Siapa yang tak kenal Gatotkaca, sang satria Pringgandani, otot kawat tulang besi, kumis melintang tubuh bak karang, ayahnya Bima turunan dewa sedang ibunya Arimbi turunan raksasa. Sepintas dialah manusia sempurna yang tak tertandingi apapun jua.

Namun dibalik segala kegagahan dan keperkasaannya sang Gatotkaca menyimpan kepedihan yang amat dalam. Siapa yang menyangka bahwa sang satria tak pernah merasakan indahnya masa kanak-kanak, tak pernah merasakan bagaimana bermain dengan teman-teman sebayanya, tak pernah berenang di sungai negerinya, tak pernah ikut mengejar layang-layang atau bahkan berdendang di bawah bulan purnama seperti halnya anak-anak yang lainnya.

Tubuh kecilnya yang sudah begitu kuat ditempa di kawah candradimuka hanya untuk menjadi “tumbal” pengusir para raksasa yang mengacau kahyangan dan keluar menjadi sosok tegap berwibawa lagi sakti mandraguna tanpa melewati masa kanak-kanak…sungguh ironis.

Sang ibu pun bukannya tak menyadari bahwa dibalik tubuh tegap tersebut ada sepasang mata kanak-kanak yang menyimpan keluguan dan kepolosan, bahkan suatu hari ditanyakannya kepada anaknya ketika melihat Gatotkaca tampak tertegun menatap anak-anak yang sedang bermain dibawah pohon.

“Apa kau ingin ikut bermain memanjat pohon seperti mereka anakku?” Tanya sang ibu

“Mereka tak mau mengajakku bermain” tetap menatap nanar

“Apa kamu tak mau ikut berburu capung dengan mereka?”

“Aku bisa terbang..buat apa?” Gatotkaca berlalu dengan wibawa namun sang ibu tahu bahwa dibalik semua keteguhan hati Gatotkaca tetap ada sebuah perih…perih yang hanya dia, sang ibu dan Dewata yang tahu..perih dari hati seseorang yang masa kanak-kanaknya terampas untuk sebuah nama “kedigjayaan dan ketenaran”

Dan

semoga tidak ada Gatotkaca-gatotkaca kecil lagi dimuka bumi ini.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar